Kamis, 29 Oktober 2015

Ketika Waktu Berlalu

Tak terasa sudah lebih dari 2 tahun aku berada di tempat ini.Teringat bagaimana pertama kali aku memberanikan diri menapakkan kaki disini, ditempat yang sangat asing, bahkan belum pernah ku bayangkan sebelumnya. Ya inilah tempatku beradu nasib sekarang, Purwokerto kota ngapak dengan khas mendoannya. Sesampainya di terminal Purwokerto, hal pertama yang terpikirkan olehku adalah kembali pulang. "Tempat ini sangat asing olehku, aku ingin pulang saja" gumamku dalam hati. Tapi tak berani kuucapkan pada seseorang yang saat itu menjadi salah satu kekuatanku untuk memberanikan diri ke tempat ini tanpa kedua orangtuaku. Dialah yang rela susah payah mengantarku untuk tes di beberapa perguruan tinggi, mencarikanku tempat tinggal yang nyaman, dan hal-hal lainnya. Dialah tempatku berkeluh kesah, ya dialah yang diamanahkan untuk menjagaku disini. Waktu demi waktu, pada akhirnya ia berlalu begitu saja. Meninggalkanku tanpa peduli bahwa aku hanya sendiri di tempat asing ini tanpa dia. Sempat ku berfikir, sanggupkah aku melalui hari-hari ditempat asing ini tanpanya? bagaimana jika terjadi sesuatu padaku disini? siapa lagi yang akan menjagaku disini? hampir saja aku lupa bahwa ada Dia yang senantiasa menjagaku, tempatku berkeluh kesah dan mengadukan nasib. Ya dialah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang tak akan meninggalkanku. Sebagaimana Dia berfirman: Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekatinya satu hasta, dan jika dia mendekati-Ku satu hasta Aku akan mendekatinya satu depa. Jika dia datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari (HR. Bukhari)." Waktu demi waktu hatiku mulai mengikhlaskan, memaafkan hal-hal yang membuatku kecewa, memulai hari-hari baruku tanpa kekhawatiran. Dengan semangat baru, ku tanamkan dalam diriku bahwa "Cukuplah Allah sebagai penolongku, dan Allah adalah sebaik-baiknya penolong. (QS.Ali Imran: 173)" :)

Minggu, 18 Oktober 2015

Serpihan Harapan

Serpihan harapan...
Bukan tanpa sebab ku beri judul blog ini serpihan harapan.
Kau ingin tau sebabnya?
Sedikit ku ceritakan, bahwa saat ini harapan-harapanku satu persatu mulai padam.
Kau tau mengapa?
Karena sepotong hatiku pergi meninggalkanku, tanpa peduli aku masih membutuhkannya untuk menggapai satu persatu harapan yang pernah terucap bersama.
Kau kira aku berlebihan?
Tidak! Aku tak berlebihan. Coba saja kau bayangkan kau berada di tengah gelapnya malam, lalu kau didatangi secercah cahaya, tentu kau berharap cahaya itu dapat menerangimu bukan?
Ketika cahaya tersebut benar-benar nyata untukmu, kau sadari ia semakin lama makin redup hingga benar-benar padam.
Bagaimana perasaanmu? Gelap?
Itulah yang kurasakan saat ini, gelap, sunyi, sepi.
Lalu apa hubungannya dengan serpihan harapan?
Seperti yang kukatakan bahwa harapanku satu persatu mulai padam. Hingga detik ini kekecewaan, pengkhianatan, keputus asaan bergelora dan berlomba memadamkan satu persatu harapanku.
Aku harap, dengan ku tuliskan bisa ku kumpulkan kembali serpihan-serpihan harapan yang mulai padam agar gelapnya malam tidak benar-benar membuatku menutup mata dari cahaya lain yang akan datang pada waktunya.
Sulit memang mengumpulkan kembali serpihannya, karena sepotong hatiku adalah beberapa dari harapan itu.
Tapi aku tetap bertekad untuk mengumpulkan kembali serpihan-serpihan yang masih bisa ku kumpulkan. Jika dulu serpihan itu bagian dari hatiku yang utuh, sekarang kujadikan bagian dari diriku sendiri. Aku ingin mengelilingi Tanah Airku, aku ingin belajar ke Pare, aku ingin ke Paris dan ingin yang lainnya sekarang akan menjadi inginku. Ya untuk diriku sendiri, bukan lagi untuk hatiku yang utuh.
Aku yakin, dengan usahaku dan dengan izin-Nya, satu persatu serpihan harapan itu dapat ku kumpulkan kembali dan akan ku wujudkan satu persatu!