Minggu, 18 Oktober 2015

Serpihan Harapan

Serpihan harapan...
Bukan tanpa sebab ku beri judul blog ini serpihan harapan.
Kau ingin tau sebabnya?
Sedikit ku ceritakan, bahwa saat ini harapan-harapanku satu persatu mulai padam.
Kau tau mengapa?
Karena sepotong hatiku pergi meninggalkanku, tanpa peduli aku masih membutuhkannya untuk menggapai satu persatu harapan yang pernah terucap bersama.
Kau kira aku berlebihan?
Tidak! Aku tak berlebihan. Coba saja kau bayangkan kau berada di tengah gelapnya malam, lalu kau didatangi secercah cahaya, tentu kau berharap cahaya itu dapat menerangimu bukan?
Ketika cahaya tersebut benar-benar nyata untukmu, kau sadari ia semakin lama makin redup hingga benar-benar padam.
Bagaimana perasaanmu? Gelap?
Itulah yang kurasakan saat ini, gelap, sunyi, sepi.
Lalu apa hubungannya dengan serpihan harapan?
Seperti yang kukatakan bahwa harapanku satu persatu mulai padam. Hingga detik ini kekecewaan, pengkhianatan, keputus asaan bergelora dan berlomba memadamkan satu persatu harapanku.
Aku harap, dengan ku tuliskan bisa ku kumpulkan kembali serpihan-serpihan harapan yang mulai padam agar gelapnya malam tidak benar-benar membuatku menutup mata dari cahaya lain yang akan datang pada waktunya.
Sulit memang mengumpulkan kembali serpihannya, karena sepotong hatiku adalah beberapa dari harapan itu.
Tapi aku tetap bertekad untuk mengumpulkan kembali serpihan-serpihan yang masih bisa ku kumpulkan. Jika dulu serpihan itu bagian dari hatiku yang utuh, sekarang kujadikan bagian dari diriku sendiri. Aku ingin mengelilingi Tanah Airku, aku ingin belajar ke Pare, aku ingin ke Paris dan ingin yang lainnya sekarang akan menjadi inginku. Ya untuk diriku sendiri, bukan lagi untuk hatiku yang utuh.
Aku yakin, dengan usahaku dan dengan izin-Nya, satu persatu serpihan harapan itu dapat ku kumpulkan kembali dan akan ku wujudkan satu persatu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar